Tantangan Level #1 Bunda Sayang : Komunikasi Produktif
Sore kemarin saya pulang dari toko sekitar pukul 17.00. Dengan kondisi cukup lelah setelah bekerja di toko sambil membersamai anak balita yang sedang aktif-aktifnya, saya sudah merencanakan apa saja yang akan saya masak sore ini untuk makan malam.
Baru masuk rumah si kecil sudah rewel karena lapar dan mengantuk. Langsung cepat2 saya rebus telur ayam kampung dan menghangatkan sop jagung wortel kesukaannya. Azan magrib berkumandang, telur baru matang dan saya tergopoh2 menyuapi si kecil yang sepertinya memang sudah sangat kelaparan. Bersamaan waktu magrib itu juga si ayah pulang dari kantor dan langsung berwudlu untuk berangkat jamaah maghrib.
Setelah cukup kenyang dan si kecil sudah bisa dikondisikan dengan mainannya saya bisa sholat dan memutuskan untuk memasak makan malam saya dan ayah nya. Perut yang keroncongan sudah ga tahan membayangkan sayur bobor dan sambel ikan salem. Sudah setengah jam lebih saya berdiri di dapur namun tiba2 si kecil merengek karena mengantuk. Proses masak masih 75%. Padahal saya pikir saya bisa segera menyelesaikan masak, mandi baru ngelonin si kecil. Ternyata si kecil keburu rewel dan tantrum. Saya memilih memasak sambil menggendong nya Karena saya khawatir saat suami pulang dan masakan belum matang. Kalau saya ajak anak tidur bisa2 masakan baru bisa selesai jam 8 karena si kecil biasanya butuh waktu lama dari dikelonin sampe mau tidur sendiri.
Alhamdulillah masakan selesai.. Namun si kecil tantrumnya semakin menjadi. Si ayah yang baru pulang dr masjid tergopoh2 menenangkan. Saya bisa mandi sebentar lalu segera mengajak si kecil tidur.
Si kecil sudah tidur dengan damainya.. Namun ternyata prahara dimulai.. Si ayah tiba2 menyampaikan kalau dia tidak makan malam karena td sore baru aja makan dg rekan kantor. Rasanya emosi saya langsung memuncak saat itu juga. Rasanya perjuangan saya sampe ngorbanin anak nangis2 kayak ga ada artinya. Meskipun sempat bicara penuh emosi sebentar, lalu saya ingat dg materi dalam komunikasi produktif. Saya perlu diam sejenak. Ternyata butuh waktu yang cukup lama untuk meredam emosi dalam keadaan diam. Saya memilih untuk sholat, duduk sambil mengerjakan pekerjaan domestik yang ringan.
Malam itu pun rasanya berlalu dengan sedikit dingin..
Pagi itu.. Saya membuat kolak waluh spesial. Tiap pagi kita bertiga slalu kumpul untuk sesi sebelum sarapan.. Biasanya minum yang anget2 sambil ngemil dan liatin polah tingkah balita kami yang sedang lucu2nya. Menurut saya ini juga bisa jadi forum keluarga.
Di tengah ngobrol2 santai dan bercandaan tentang perut si ayah yg makin maju akhirnya saya tanyakan dg jelas tentang makan malam kemarin. Apa ayah memang berniat diet jadi ga mau makan malam? Kalo iya kan bisa dikomunikasikan dulu. Pembicaraan yang semi bercanda ini akhirnya bisa menghasilkan kesimpulan kalau ayah memutuskan mengurangi makan malam. Jadi saya ga perlu masak aneh2 kalau sore. Cukup siapkan buah aja. Tapi kalo pengen makan ya bilang dulu sebelumnya.
Dari sini akhirnya saya belajar tetang salah satu atau dua kaidah dalam komunikasi produktif yaitu clear and clarify dan choose the right time. Betul sekali yang namanya komunikasi itu harus disampaikan dengan cara yang jelas (clear) dan pihak yang diajak bicara punya kesempatan untuk melakukan clarify.
Begitu juga tentang waktu dan suasana saat komunikasi juga sangat penting. Suasana saat tegang dan emosi membuat komunikasi menjadi tidak produktif. Tapi kalau disampaikan saat adem, santai pasti jadi efektif.
Selesai tantangan hari pertama pagi ini..
#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
semangat mbaaa...
BalasHapus