Tantangan Level #1 : Bunda Sayang hari ke2
Kemarin rasanya jadwal padat sekali dari pagi sampai sore. Rasa-rasanya tidak ada waktu untuk nulis hasil tantangan komprod di blog 😫. Dari pagi setelah mengkondisikan toko saya ada jadwal visit pasien saya sampai siang. Sore nya stand by di toko sambil membersamai si kecil yang bobok siang nya bentar (pake) banget. Eh malamnya alhamdulillah diundang acara syukuran di tempat bulik. Sampai rumah betul-betul sudah mengantuk dan lelah.
Penerapan komunikasi produktif memang tidak cukup hanya dalam rangka menjawab tantangan kelas bunda sayang ini. Harapannya setelah 10 hari kita biasakan dan latih lalu ditulis dengan rinci.. Selanjutnya tinggal mengaplikasikannya terus menerus seumur hidup.
Tidak ada istilah lulus atau tidak lulus dalam komunikasi produktif. Yang ada kita terus belajar bagaimana berkomunikasi produktif itu. Dinamika kehidupan kita berubah setiap hari. Kadang pun kita juga akan lengah dan lupa bagaimana harusnya berkomunikasi itu. Kadang mengedepankan ego, amarah dan muncul sifat egois diri.
Sore kemarin sebetulnya saya dan si ayah sudah berencana mau belanja ke supermarket bada magrib untuk nyetok susu si kecil.. Suatu rencana yang sudah dicanangkan dari 3 hari yang lalu namun gagal karena kesibukan si ayah. Eh qadarullah sorenya ada undangan untuk hadir di acara tasyakuran di rumah bulik karena ponakan diterima kerja di tempat yang bagus.
Di sinilah saya dan si ayah bisa menerapkan komunikasi produktif ini. Apakah memilih tetap belanja ke supermarket karena sudah direncanakan jauh-jauh hari? Atau memilih datang di acara dadakan saudara.
Biasanya untuk insiden seperti ini saya yang agak egois memilih ke supermarket saja karena toh sudah saya rencanakan jauh2 hari. Dan biasanya si ayah manut2 saja meskipun di belakang kadang ada "grundelan-grundelan" tidak jelas karena acara keluarga ini adalah dari keluarga si ayah.
Dalam ilmu komunikasi produktif ada kaidah i'm responsible for my communication result. Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
Biasanya saya cuek sama respon si ayah ketika memutuskan sesuatu.. Sehingga hasil akhirnya ternyata si ayah agak sebel sama saya tapi dipendam sendiri. Kali ini saya mencoba open mind agar tercipta komunikasi produktif di antara kami.
Saya coba diskusikan dengan si ayah.. Dengan menanyakan mau datang ke tempat bulik atau tetap belanja? Si ayah hanya bilang "manut.." Saya buka diskusi lagi. "Kalau ke tempat bulik pertimbangannya kita ketemu saudara2. Jangan manut.. Ini kan saudara dari pihak ayah. Jadi kesannya ayah kan yang membawa diri keluarga kita ke keluarganya ayah?"
Lalu ayah menjawab. "Iya..betul seperti itu. Yasudah kalau gitu kita ke tempat bulik.. ke supermarket nya besok ayah selakan waktu sebelum ke kantor. Ayah kan ngantornya siang."
Nah dari situ jelas apapun yang akan kita putuskan baiknya kita diskusikan dulu baik dan buruknya agar ga ada penyesalan di belakang.
*** Communication in a relationship in like oxygen. Without it.. It dies ***
Komentar
Posting Komentar