Rumahku Lumbung Panganku

Konsep "Rumahku Lumbung Panganku" yang gencar dikenalkan oleh seorang petani inspiratif asal Sleman, Bapak TO Suprapto selayaknya harus menjadi prinsip setiap keluarga.

Harga kebutuhan pokok dan bahan pangan makin naik, apalagi global trading saat ini makin membuka peluang ekspor berbagao kebutuhan termasuk di antaranya kebutuhan pangan.

Padahal di Indonesia yang memiliki 2 musim dan curah hujan yang tinggi seharusnya kegiatan bertani maupin beternak sangat mudab dijalankan, meskipun dalam lahan yang sempit.

Saat saya bersama ibu2 dari komunitas Ibu Profesional Jogja berkunjung ke JOGLO TANI, suatu model "Rumahku Lumbung Panganku" yang sangat bagus. Di sana kami belajar bagaimana memanfaatkan lahan sekitar dengan optimal untuk budidaya sayuran, buah, padi, peternakan dan perikanan secara organik, hemat dan produktif.

Dari Joglo Tani kami belajar bahwa jika kita bisa memanfaatkan lahan di sekitar rumah dan sumber daya yang kita miliki, setidaknya kita bisa memutus beberapa mata rantai distribusi bahan pangan yang selama ini memakan banyak biaya. Banyak sekali cara yang dapat dilakukan seperti menanam sayur dalam pot, vertikultur, hidroponik. Mina padi, beternak bebek, ayam, dan lain-lain.

Apa yang diajarkan oleh Joglo Tani sebetulnya sudah sejalan dengan keluarga kami sejauh ini. Di rumah, suami sejak 3 tahun yang lalu memelihara beberapa ekor lele dan ikan nila untuk konsumsi sendiri. Kolam hanya berukuran kecil di belakang rumah kami dibuat dari kotakan semen dan dilapisi terpal. Alhamdulillah jika ingin makan ikan nila suami memancing beberapa ekor. Jadi tidak perlu beli. Pemenuhan kebutuhan protein hewani keluarga pun terpenuhi.

Berikut deskripsi nya

Nama project : Memelihara Ikan Nila & Gurame
Sumber Pangan : protein hewani
Gambaran project : pemeliharaan ikan nila dan Gurame secara semi intensif, ikan dipelihara dari berukuran 7 cm. Diberi pakan pellet ikan setiap hari. Model kolam  tertutup dengan pompa + filter sederhana.
Hasil yang diharapkan : dalam 1 tahun pemenuhan protein hewani keluarga tercukupi, jika hasilnya lumayan (ukuran ikan bisa seragam dan pertumbuhan cepat) 1-2 tahun lagi mencoba untuk pemeliharaan yang lebih intensif (mengambil bibit baru) agar dapat dikembangkan sebagai usaha keluarga mandiri.,
Peran keluarga : suami beli bibit, membuat kolam, mengontrol ikan dan kolam setiap hari. Istri membantu memberi pakan ikan setiap hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

koas...oh koas... [ catatan mahasiswa koas kedokteran hewan UGM ]

Aspek Fisiologis dan Hormonal Kebuntingan Kucing

Moslem Vet and Dogs (Dokter Hewan Muslim dan Anjing)