Harus ada Titik Balik Kedua



Sudah cukup lama waktu berjalan menjauh dari titik balik perubahan diriku bulan Ramadhan tahun lalu, kemudian sekarang beberapa hari lagi aku sudah akan bertemu dengan Ramadhan lagi. Ingin rasanya menuliskan apapun yang ada di hati ini, tulisan bagiku bukan hanya tentang meluapkan perasaan, tapi apa yang aku tulis bisa menjadi sebuah komitmen dan memorandum yang akan mengingatkanku sampai kapanpun, aku tidak akan berkhianat pada diriku sendiri.

Satu tahun,
Apa kabar?
Apakah kau masih istiqamah?
Apakah setelah kau berani membuat suatu keputusan besar apakah sekarang masih bisa kau pertanggungjawabkan?

nafsu dan setan. Meretakkan prinsip, menggoyangkan iman, menguji keistiqamahan untuk selalu di jalan-Nya.. yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bertahan untuk melawannya. Kita tidak pernah tahu apakah kita bisa bertahan atau tidak tanpa ada yang mengujinya.

Lalu di masa penantian ini, apa kabar denganmu? Apa yang terjadi?

Biarkan aku menata hati untuk bersiap menyambutnya, menjaga hati dan menyederhanakan segala rasa yang ada.

Jatuh cinta itu fitrah, tapi dalam penantian ini biarkan untuk sementara aku sendiri menjalani kehidupanku sendiri. Biarkan aku jadikan kesendirianku-yang-sementara ini membuatku menjadi wanita tangguh dan mandiri yang kelak akan bermanfaat dalam keadaan sulit dalam rumah tanggaku nanti. Dalam kesendirianku  ini aku menjadi berharga karena aku buktikan aku mampu menjaga diri untuk sahabat hidupku kelak.

biarkan aku belajar untuk menjadikan cinta menjadi serpihan-serpihan sederhana untuk kutempatkan pada tempat yang wajar, agar nantinya cinta ini hanya tercurah untuk sang pemilik cinta. Biarkan cinta menjadikan pengukuh rasa imanku, pengingat rasa maluku, dan menjadi cara untuk merekatkan cintaKu padaNya.

Biarkan aku belajar untuk memantaskan diri, menjadikan diri ini pantas untuk dicintai-Nya. Bismillah..semoga hari ini menjadi titik balik kedua untuk selalu berusaha menjadi lebih baik di mata Allah.

“Ya Allah, aku titipkan sebuah rasa kepada yang telah kau torehkan namanya dalam lauhul mahfudz untuk menemani perjalanan hidupku untuk beribadah kepada Mu. Andai Engkau berkenan, pertemukanlah kami di sebaik-baiknya keadaan, waktu dan tempat. Jadikan hati kami berpaut karena Mu, bukan karena hal duniawi.


Lakukan ibadahmu semata-mata karena Allah, bukan untuk siapapun atau karena siapapun.

Berikan yang terbaik untuk Allah, maka Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Amiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

koas...oh koas... [ catatan mahasiswa koas kedokteran hewan UGM ]

Aspek Fisiologis dan Hormonal Kebuntingan Kucing

Rumahku Lumbung Panganku